Agefield high benarkah penerus bully

Agefield High vs Bully: Benarkah Penerus Bully?

Sejak pertama kali diperkenalkan, Agefield High: Rock the School langsung bikin banyak gamer teringat sama Bully. Wajar saja, kedua game ini melempar kita ke lingkungan sekolah yang isinya berbagai kelompok siswa, drama pertemanan, konflik sosial, dan ragam masalah khas remaja. Pertanyaannya, apa game ini layak menyandang gelar sebagai penerusnya?

Apa Sebenarnya Agefield High: Rock the School?

Game ini pada dasarnya mengusung tema kehidupan sekolah dengan bumbu cerita coming-of-age. Kita akan mengikuti kisah Sam Tatum, anak baru yang pindah ke Agefield bersama keluarganya. Waktunya tidak banyak, Sam cuma punya sisa tiga bulan sebelum hari kelulusan.

Di awal cerita, dia lumayan tertekan karena harus mengejar nilai bagus demi masa depan yang sudah didikte oleh orang lain. Semuanya perlahan berubah waktu Sam berkenalan dengan Kale Baines dan Axel Philly. Ketiganya merancang sebuah misi bernama “Rock the School”. Niat mereka cukup simpel: bikin sisa tiga bulan di sekolah jadi momen yang tidak terlupakan.

Kenapa Sering Disamakan dengan Bully?

Dalam Agefield High, pemain harus pintar-pintar beradaptasi di tengah kerasnya pergaulan sekolah. Ada bumbu romansa, adu gengsi antar murid, sampai konflik yang pelan-pelan makin memanas.

Sam juga tidak cuma duduk manis di kelas. Dia aktif bergaul, ikut berbagai kegiatan, menabrak masalah, dan akhirnya terseret makin jauh ke dalam rantai sosial sekolah tersebut. Pola permainan seperti ini yang membuat banyak orang spontan mengaitkannya dengan mahakarya Rockstar itu.

Sisi Kemiripan yang Paling Terasa

Kalau dibedah dari konsep besarnya, DNA kedua game ini memang bersinggungan di beberapa titik:

  • Fokus di Kehidupan Sekolah: Sekolah jadi panggung utama cerita. Sam harus bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan berbagai kelompok murid di Agefield High.
  • Gesekan Antar Siswa: Hidup Sam jauh dari kata tenang. Rivalitasnya dengan karakter bernama Seth bergeser dari sekadar adu gengsi sosial menjadi perseteruan pribadi yang lumayan parah.
  • Drama Percintaan dan Pertemanan: Urusan sosial mengambil porsi besar di sini. Sam membangun kedekatan dengan Kale dan Axel, sementara untuk urusan asmara ada sosok Chloe dan Ashley. Mendekati acara Prom, pemain harus memilih siapa yang mau diajak jalan, dan pilihan ini bakal menentukan satu dari dua ending yang tersedia.
  • Motif Masing-masing Karakter: Karakter pendukung di sini tidak sekadar numpang lewat. Kale sibuk merancang masa depannya, Axel ngebet ingin jadi rockstar, sedangkan Sam sendiri masih bingung mau dibawa ke mana arah hidupnya.

Tunggu Dulu, Ini Bukan Bully 2

Walau vibe-nya mirip, Agefield High tetap berdiri sendiri dengan identitas dan ceritanya. Sam Tatum itu bukan Jimmy Hopkins, dan Agefield jelas beda dari Bullworth Academy.

Cerita Sam lebih spesifik menyoroti fase krusial sebelum lulus. Di rentang waktu sempit itu, dia mencari teman, menghadapi konflik, berpacaran, sekaligus mencoba memegang kendali atas hidupnya sendiri. Inti permainannya bukan soal bikin rusuh di koridor sekolah. Sam yang awalnya datang membawa beban ekspektasi orang lain, mulai belajar mengambil keputusannya sendiri.

Rivalitas Sam dan Seth Jadi Pembeda

Satu elemen yang membuat alur ceritanya melesat jauh adalah perseteruan Sam dengan Seth. Awalnya, Seth merasa paling berkuasa di sekolah. Waktu Sam mulai merebut sorotan, mendaki tangga sosial, dan mengambil alih lingkaran pergaulan Seth, rasa bencinya meledak.

Puncak konfliknya cukup gelap. Seth nekat menculik Chloe dan membawanya ke area rel kereta. Sam dan teman-temannya harus turun tangan menyelamatkan Chloe. Insiden inilah yang memutar balik pandangan satu sekolah. Sam mendadak diangkat layaknya pahlawan. Perjalanannya ternyata melampaui sekadar mencari popularitas murahan, ada pengembangan karakter yang solid di sepanjang cerita.

Jadi, Apakah Pantas Disebut Bully 2?

Agak berlebihan kalau langsung melabeli Agefield High sebagai penerus mutlak. Game ini lebih pas dilihat sebagai judul yang meminjam daya tarik tema anak sekolahan, tapi meraciknya dengan karakter, plot, dan dinamikanya sendiri.

Elemen yang membuat kita nostalgia memang bertebaran. Ada hiruk-pikuk sekolah, percintaan remaja, dan konflik antar siswa. Cuma dari segi cerita, fokus utamanya lebih ke perjalanan personal Sam menemukan jati diri.

Kalau kamu mencari game yang isinya nongkrong di sekolah, cari teman, dan berhadapan dengan drama khas remaja, Agefield High jelas masuk radar. Untuk membuktikan apakah game ini setara dengan Bully, kita masih harus melihat bagaimana eksekusi gameplay, open world, dan kebebasan interaksinya nanti. Sejauh ini, Agefield High: Rock the School terlihat lebih ambisius membangun namanya sendiri ketimbang cuma meniru game lama.

Bagikan postingan:
Deagus
Deagus

Saya hanya seekor beruang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *